syaloom . . horas . . . . ! !
Perkenalkan terlebih dahulu nama saya ,
Tober Juntak.
Saya seorang pemusik uning-uningan atau bahasa latinnya Pargocci (musik tradisional batak), saya katakan demikian karena saya memainkan perangkat musik batak disalah satu grup musik batak di kota Jambi tercinta. Grup ni bernama EMBAS Musik, yang diasuh oleh bapak D.Padang,SE dan didirikan pada awal 2000an, diawal berdirinya grup ini masih dengan peralatan pas-pasan, dan tarafnya pun masih sebatas rental sound system. Namun sebuah awal yang bagus saat itu dimana usaha sejenis ini yang dikhususkan pada orang batak dan segala kegiatannya masih bisa dihitung. Tidak butuh waktu lama buat Embas untuk menarik simpati masyarakat batak di Jambi, dengan usaha dan menjalin hubungan yang baik terhadap rekan-rekan, kenalan dan keluarga, mulai terlihat adanya perkembangan dan respon yang cukup baik serta masukan-masukan yang posotif dari halak hita yang di Jambi. Dan tidak berlangsung lama disahkanlah berdirinya grup ini dengan personil penuh, yakni dengan tiga orang vokal (trio) dan musik pendukung keyboard, seruling, hasapi, sarune serta taganing. Perjalanan pun dimulai sebagai sebuah grup musik tradisional (orkes batak), selangkah demi selangkah kami maju dengan keuletan dan keteguhan. Di era tahun 2000 - 2004, grup musik sejenis Embas ini di kota Jambi belum banyak yang bermunculan, sehingga persaingan pun tidak terlalu berat, kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Embas untuk mencari nama dan tentunya jam terbang yang banyak. Puji Tuhan berkat doa dan hasadaon ni roha para personilnya, nama Embas cukup terkenal dikota Jambi dan sekitarnya, terlebih-lebih dikalangan masyarakat Sumatera Utara atau istilah kerennya orang batak yang berdomisili dikota Jambi.
Pada masa itu pesta-pesta adat sendiri sudah mulai marak, baik itu pesta pamasu-masuon, pesta mangadati, pesta partangiangan bona taon marga-marga atau punguan-punguan dan juga pesta ulaon sari/saur matua bagi orang yang meninggal. Hari dimana biasanya pesta ini diadakan adalah akhir minggu, hari jumat dan hari sabtu, terkecuali ulaon sari/saur matua. Namun seperti pesta partangiangan bota taon ini umumnya diadakan di awal tahun, sekitar bulan Januari sampai Maret rata-rata yang ramai, bulan-bulan ini juga termasuk bulan penuh berkah bagi para pargocci atau parmusik di kota Jambi, karena ramainya pesta di awal tahun ini tidak memandang hari, senin sampai minggu penuh dengan pesta. Pada empat bulan pertama di awal tahun yang selalu terulang tiap tahunnya ini lah para pemusik-pemusik dikota Jambi menunjukkan kualitas dan eksistensi mereka dalam bermusik dan tentunya meraup penghasilan yang lebih. Ini suatu tradisi yang selalu ditunggu-tunggu para parggoci, bagi saya pribadi ini suatu hal yang luar biasa, kebersamaan yang dicerminkan oleh halak hita ini memang patut di tiru, saya rasa diseluruh penjuru dunia ini yang ada orang bataknya, selalu penuh dengan kebersamaan, disatu sisi ini merupakan sebagai alat mengatasi kerinduan akan huta (kampung halaman) yang jauh disana. Dan DALIHAN NA TOLU pun tidak pernah hilang dari kebiasaan, keseharian halak hita dimanapun, segala unsur dan tata letak maupun tata urut dalam adat kita yang besar itu tetap terjaga seperti halnya dengan di huta. Partuturon pun tidak salah dalam pelaksanaannya sehari-hari, sungguh luar biasa alat pemersatu halak hita ini.
Dan ini semua saya lihat sendiri di setiap pesta / ulaon adat yang di ikuti oleh Embas grup. Dan bagaimana keberadaan semua itu didalam kehidupan sehari-hari para anggota Embas sendiri? yah.. kami juga bagian dari masyarakat Sumatera Utara atau halak hita yang ada dikota Jambi, berbaur dalam keseharian, pekerjaan dan turut serta dalam pesta atau ulaon yang berlangsung.
Harga sewa tampil pada masa itu untuk setiap grup pargocci di kota Jambi bervariasi, dari yang memasang harga 1 juta sampai 2 juta, diluar dari pesanan keluar kota. Untuk Embas sendiri memasang harga 1 hari tampil dihitung dari jam 7 pagi sampai dengan jam 6 sore sekitar 1,5 juta, dan lewat dari batas waktu dikenakan biaya tambahan. Dari harga 1,5 juta itu, dengan jumlah personil Embas 9 orang, kalau di pikir-pikir berapakah honor pemain? dan berapa lagi setoran buat pemilik sebagai balik modal atau untung? Namun kondisi tersebut disesuaikan dengan kesepakatan bersama, dengan jumlah bayaran 1,5 juta harus bisa dibagi dan dapat diangsur untuk mengembalikan modal usaha dan untung.
Satu hal yang bisa mengatasi kecilnya pendapatan adalah berusaha untuk meningkatkan kualitas yang berdampak banyaknya pesanan manggung, dengan modal kepercayaan yang sudah diberikan masyarakat batak di kota Jambi dan kualitas jasa yang diberikan Embas pada setiap pelayanannya, kecilnya pendapatan pun bisa diatasi dengan seringnya manggung. Disamping itu job keluar kota merupakan satu hal yang paling dinanti, dengan lokasi manggung yang cukup jauh tentunya bayaran pun semakin tinggi... dan nilai tambah yang masih bisa dihitung dan menjadi alternatif tambahan adalah pitta-pitta. what is the pitta-pitta?
Namun jenis yang satu ini sifatnya tidak mengikat, kadang ada . . yah kadang-kadang sebaliknya. Kalau ada, bah... mauliate. Kalau ga ada . . . yah . . kalau bisa ada lah.. (hahahaha...) Pitta-pitta ini merupakan sejenis pemberian kecil dan ini merupakan tradisi tersendiri bagi kami pargocci, jika ada yang meminta lagu atau musik gondang tradisinya memberikan fee seikhlas hatinya, kita pun menerima dengan senang hati, kebiasaan seperti ini sudah lumrah dikalangan pargocci di acara-acara adat dan pesta-pesta.
Maraknya acara-acara dan pesta adat dikota Jambi mencerminkan bahwasanya orang batak merupakan orang yang menghargai tradisi nenek moyang, atau tradisi sijolo-jolo tubu. tidak memandang tempat tinggal, dimana pun halak hita itu berada yang namanya ulaon itu mau dak mau harus ada.
Faktor yang menjadi kendala terkadang datang dari masyarakat tanah sileban ini, ada sebagian dari mereka yang bisa menerima keberadaan kita dan ada yang masih belum bisa menerima keberadaan kita, namun itu adalah tantangan tersendiri bagi kita sebagai manusia yang beradat, untuk mensosialisasikan keberagaman suku, dengan pendekatan yang positif dan pola pikir yang sifatnya membangun untuk kemajuan bersama. segala daya upaya itu saya yakin tidak akan sia-sia jika kita berfikiran positif dan senantiasa bekerja didalam tuhan. Mengingat bahwa diseluruh pelosok negeri ini tidak ada yang tidak ditempati oleh halak hita.
Demikian juga keberadaan para pargocci ini, yang menjadi pelengkap kekayaan hasanah dan budaya bangsa batak, dimana pun berada, baik di Jambi atau dimana sekali pun, tetaplah berkarya dengan positif, membangun daerah dimana kita tinggal, namun jangan lupa sama huta atau bona pasogit, dan Embas Grup akan selalu berkarya dan berkarya yang positif demi kelestarian budaya kita dan kelangsungan hidup akka taganing ini. Semoga.
Horas jala gabe ma, maulite diharadeon muna mambaca tulisan on..
Molo adong akka pitta-pitta boi do nijalo... hahahaha....
Tober Juntak
pengasuh http://www.embasmusik.com
http://www.bisnis-ta.com